Berusaha Tetap Berpikir Positif Dengan Terjadinya Kecelakaan Pesawat

No Comments
http://www.atm303.com/

Dikutip atm303 Kenapa kita selalu ikut cemas dan parno berlebihan setelah mengikuti berita pesawat jatuh? Padahal industri penerbangan jauh lebih aman dibanding naik bus atau sepeda motor.
Bandara bagiku adalah salah satu tempat paling menyenangkan di dunia, tapi masalahnya satu: aku merasa benci naik pesawat dan celakanya aku terus memelihara obsesi dan ketakutan pada risiko industri penerbangan komersial. Itulah sebabnya, ketika hari-hari ini semua media di Indonesia melaporkan tragedi jatuhnya Lion Air JT 610 di Tanjung Karawang, aku mengikutinya tanpa henti. Aku terobsesi. Fobiaku pada penerbangan bangkit. Sampai pada titik aku sadar ini sudah enggak sehat.

Padahal, jika kuingat-ingat lagi, aku sangat mencintai pesawat dan bandara. Aku enggak punya terlalu banyak kenangan masa kecil yang indah bareng bapakku, kami memang tidak dekat. Tapi aku ingat saat kami tinggal di sebuah rumah dekat Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Tiap kali pesawat hendak mendarat atau terbang, pesawat itu melayang persis di atas atap rumah kami.
Aku ingat bagaimana bunyinya benar-benar memekakkan telinga dan bagaimana kegaduhan itu bikin aku langsung keluar rumah dan menikmati angin dan kebisingan yang ditimbulkannya. Lalu tiap sore aku dan bapak berkendara naik motor butut menuju ke sebuah jalan rahasia di samping landasan. Kami di sana menunggu pesawat lepas landas dan mendarat dari balik kawat pembatas landasan. Makanya cita-cita pertamaku pun menjadi pilot atau astronot, pokoknya apapun yang membuatku bisa terbang.

Seiring dewasa, aku tak terlalu tertarik lagi dengan pesawat. Aku bahkan jadi takut naik pesawat, dan penyebabnya bukan karena aku takut ketinggian—toh aku santai saja naik gunung atau melintasi jembatan gantung tinggi. Sumber ketakutanku adalah kondisi di mana aku tak punya kontrol pada diriku sendiri. Itu terjadi saat aku naik pesawat. Jika aku benar-benar mati karena kecelakaan pesawat, satu hal paling menakutkan yang membuatku selalu kena serangan panik: jatuh dari ketinggian kemudian tenggelam.

Semua ketakutan tadi mendorongku terus mencari tahu seputar kecelakaan pesawat. Awalnya aku hanya ingin mencari tahu dan memastikan bahwa logika dan pengetahuan bisa mengalahkan ketakutan saat terbang. Namun yang terjadi sebaliknya. Semakin aku tahu banyak hal soal penyebab kecelakaan pesawat, semakin sering aku punya bayangan akan berbagai skenario kecelakaan.
Aku doyan menonton program dokudrama soal kecelakaan pesawat dan investigasi keluaran National Geographic, Air Crash Investigation. Aku bahkan punya kebiasaan aneh, yakni nonton video investigasi macam itu di bandara, tiap kali aku hendak bepergian sendirian naik pesawat.

Setelah pesawat mengudara, bayangan skenario yang mengerikan makin menjadi. Tiap kali aku mencium bau gosong di dalam pesawat, aku tak akan bisa berpikir rasional kalau aroma ini berasal berasal dari makanan di pantry, aku malah membayangkan ada komponen pesawat yang terbakar atau kabel sirkuit di pesawat yang meledak. Tiap terbang, sebisa mungkin aku akan memilih duduk di ujung belakang pesawat dengan asumsi kalau terjadi apa-apa penumpang belakang punya peluang selamat lebih besar. Padahal aku tahu benar, di situasi darurat macam itu, justru butuh waktu lama untuk keluar dari pesawat bagi mereka yang duduk di belakang. Aku juga punya rutinitas lain, tiap hendak takeoff dan landing, aku akan secara kompulsif menghitung 11 menit kritis yang menurut pakar disebut momen genting penerbangan.

Pernah pesawat yang aku naiki secara konstan menurunkan ketinggiannya. Aku segera membayangkan petugas di kokpit sengaja punya niat menghantamkan badan pesawat ke badan gunung seperti yang terjadi pada tragedi Gemanwings dengan nomor penerbangan 4U 9525. Dalam insiden tersebut, kopilot Andreas Lubitz sengaja menurunkan ketinggian pesawat dalam misi bunuh diri yang mengorbankan ratusan penumpang lain. Kapan hari, ketika ikut penerbangan lintas benua, aku sempat panik karena khawatir pesawat bakal mengalami stall, mirip seperti tragedi Air Asia QZ 8501 yang jatuh di Selat Karimata pada 29 Desember 2014. Saking paniknya, aku tiba-tiba sulit berpanas.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *