5 Hal Negatif Yang Tidak Perlu Kamu Ceritakan Ke Anakmu Kelak

No Comments
http://www.atm303.com/promotions.html

Sudah bukan waktunya main-main buat kamu yang ada di posisi usia lebih dari seperempat abad. Di usiamu yang mendekati 30 ini, tentu sudah masanya untuk menikah dan punya anak. Hal ini akan membuatmu berubah 180 derajat, lantaran kamu yang dulu masih bisa bermanja-manja ke orangtua, kini harus belajar mengurus anak dan suami. Tanggung jawabmu besar. Harmonis atau tidaknya keluargamu nanti, salah satu faktor pendukungnya ada pada cara kamu sebagai seorang ibu dan istri dalam membangun keluarga. Agen Sbobet Terpercaya

Hal itu juga dilihat dari anak-anakmu berkembang seperti apa di kemudian hari. Bagaimana kamu mendidiknya menjadi tolok ukur pertumbuhan mereka kelak. Oleh karena itu, kamu nggak boleh asal berkata, bersikap, dan memberikan informasi kepada anak. Biar kamu mulai terbiasa, simak yuk hal-hal apa saja yang harus kamu rahasiakan dari anak-anakmu nanti berikut ini.

1. Jangan pernah pamer betapa nikmatnya makan junk food kalau nggak mau anakmu jadi pecandu berat makanan instan super enak ini
Nggak ada yang bisa menolak kelezatan junk food. Mau apapun jenis makanannya, pasti banyak yang suka. Tapi, karena kalau keseringan mengonsumsinya juga nggak baik, kamu harus menahan makan di depan anak-anak atau menceritakan kenikmatan makanan super enak itu ke anak-anakmu nanti. Apalagi saat mereka masih kecil dan masih belum mengerti apa-apa. Daripada nanti keturunanmu jadi pecandu berat makanan instan, lebih baik tahan ya untuk nggak pamer ke mereka.

2. Rasa malas saat akan membersihkan rumah nggak perlu diceritakan juga. Apa kamu mau anakmu nanti jadi ogah-ogahan berbenah rumah?
Serajin-rajinnya kamu membersihkan rumah, pasti ada saatnya kamu lagi malas. Bukan cuma bersihkan rumah saja, tapi juga malas masak dan hal lainnya. Karena orangtua adalah contoh bagi anak-anak, maka sebaiknya kamu menahan rasa malas tersebut saat ada anak-anak ya. Misalnya ada yang bertanya ‘Mama kok nggak menyapu rumah?’, jawablah dengan ‘Iya nanti, ini mau ngerjain yang lain dulu’. Hehe..

3. Ajarkan anak untuk mencintai sayuran lewat manfaat-manfaat yang didapat. Bukan dengan menakuti mereka dampak buruk apa yang dialami kalau nggak makan sayur
Biasakanlah mengajarkan segala sesuatu kepada anak-anak dengan menjunjung tinggi ketulusan hati. Ya, dengan mengerjakan melalui rasa tulus akan terasa jauh lebih nyaman dan mudah. Termasuk dalam mencintai sayuran. Bahan makanan yang kaya manfaatnya ini memang seringkali nggak disukai anak-anak. Rasanya yang pahit atau hambar adalah salah satu alasan mengapa mereka memilih untuk tidak memakannya. Meski begitu, jangan beri tahukan tentang dampak buruk yang didapat kalau nggak makan sayur. Karena hal itu seperti sebuah ancaman atau dan juga paksaan. Lebih baik ungkapkan berbagai manfaatnya. Dengan begitu mereka akan lebih mudah menyukainya.

http://www.atm303.com/promotions.html

4. Rasa sakit ketika melahirkan nggak perlu diceritakan. Kalau anakmu perempuan nanti, takutnya dia jadi enggan punya anak dan kamu dianggap nggak ikhlas melahirkan
Momen paling membahagiakan sekaligus mengharukan sebagai seorang wanita adalah ketika kamu melahirkan. Ya, itu jadi momen tak terlupakan seumur hidupmu. Rasa sakit ketika kontraksi tiada duanya. Hal itu tanpa disadari sering kamu ungkapkan ke banyak orang ketika sedang membicarakan proses kelahiran. Nah, kalau kamu punya anak perempuan, lebih baik cari kata-kata halus untuk menceritakannya supaya nggak bikin mereka sampai takut jadi seorang ibu. Karena kalau tidak, anak perempuan kamu bisa jadi penakut dan nggak mau punya anak. Begitupun kepada anak lelakimu – yang bisa jadi merasa kamu itu nggak ikhlas melahirkannya karena selalu menceritakan betapa rasa sakitmu ketika melahirkan dia.

5. Terlalu mengkhawatirkan anak bisa jadi masalah. Coba perlihatkan sewajarnya saja agar mereka tak terganggu atau jadi penakut
Sebagai orangtua kamu akan punya rasa khawatir terhadap mereka. Hal itu sangat wajar dan anak-anakpun pasti mengerti akan kekhawatiranmu. Tapi, kalau kamu terlalu menghawatirkan dan mengungkapkannya ke mereka, yang ada anak-anak kamu jadi jengah dan nggak betah berada di dekatmu. Rasa khawatir berlebihan itu jadi bikin mereka takut mau melakukan apapun dan pergi ke manapun.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *